Ada baiknya pengendara berhati-hati bila melintasi ruas Tol Purbaleunyi atau lebih dikenal Tol Cipularang, terutama mulai dari KM 60 sampai KM 100. Pasalnya, di ruas sepanjang puluhan kilometer tersebut banyak yang meyakini sebagai poros gaib yang kerap meminta tumbal dari pengguna jalan yang melintasi ruas tersebut.
Desa Sugihwaras merupakan perkampungan penduduk yang paling dekat dengan lereng Gunung Kelud. Warga desa ini memiliki warisan kebudayaan tersendiri yakni mempersembahkan sesaji di kaki anak gunung. Persembahan sesaji ini sebagai simbol rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.“Sejak dahulu, setiap tahun, warga di sini selalu mempersembahkan sesaji di tepi kawah. Tapi, setelah dari kawah muncul anak gunung, persembahannya sesaji dipindah ke kaki anak gunung.
Pernah mendengar pesugihan kawin ghaib?Mungkin ada sebagian reader yang pernah mendengarnya namun mungkin sebagiannya lagi baru mendengar sekarang dan saya adalah salah satu orang yang baru mengetahui adanya ritual pesugihan kawin ghaib ini.
Di sebuah desa yang jauh dari jantung kota Klaten, Jawa Tengah, terdapat sebuah tempat yang menurut cerita warga setempat dihuni oleh sesosok makhluk gaib. Tepatnya adalah sebuah jembatan yang akrab disebut sebagai Jembatan Demangan, atau banyak juga yang menyebutnya sebagai Jembatan Keramat.
Tertarik oleh cerita gaib yang berkembang, beberapa pekan lalu Misteri coba mendatangi lokasi yang dimaksud. Jembatan Keramat ini posisinya berada di Dukuh Demangan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Jembatan ini merupakan jalur penghubung dengan desa di sebelah timurnya, dan terletak di atas sungai yang lebar dan panjang. Sungai ini merupakan anak sungai Bengawan Solo, yang lebih popoler disebut Kali Dengkeng.
Bila ditarik garis lurus sungai ini akan menuju ke arah wilayah Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Tembayat. Di atas kali Dengkeng inilah Jembatan Keramat itu berdiri.
Peristiwa mengerikan ini dialami oleh suami isteri Mumun (40) dan Mugiyono (43), yang kini tinggal di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Misteri menceritakan kembali kenyataan pahit yang mereka alami dengan bahasa aku. Dengan pengungkapan kisah penuh misteri ini, semoga bisa memberikan hikmah bagi para pembaca majalah kesayangan ini. Berikut kisah selengkapnya….
Namaku Mumun. Aku lahir dan besar di Jakarta. Selepas SMA tahun 1980-an aku sempat bekerja di sebuah instansi swasta di Kuningan, Jakarta. Pada saat bekerja itulah, aku mengenal Mas Mugi yang masih memiliki hubungan saudara dengan salah satu rekan kantorku.
Dua tahun menjalani masa pacaran, kami memutuskan menikah pada awal tahun 1990. Aku merasa mantap dengan Mas Mugi yang begitu pengertian dan ngemong. Terlebih lagi ia juga telah memilki pekerjaan tetap sebagai PNS di instansi angkatan laut yang berdinas di Surabaya.
Setelah menikah kami tinggal di rumah dinas yang disediakan oleh kantor suamiku. Rumah dinas yang kami tempati sangat sederhana, terletak paling ujung dan tampak seperti bangunan yang telah lama tak dihuni.
Banyak kisah mistis yang bercerita, sekaligus membuktikan, bahwa baik musholla maupun mesjid kerap menjadi tempat tinggal Jin Muslim. Kisah-kisah ini tentu saja tak bisa dianggap dongeng isapan jempol, apalagi hanya dianggap tahyul semata.
Makhluk jin memang lebih mengutamakan untuk tinggal di tempat-tempat yang sunyi dan sepi dari manusia, seperti di padang pasir atau belantara. Namun, ada juga di antara mereka yang senang tinggal bersama manusia, yaitu di dalam rumah. Abu Bakar bin Ubaid meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah SAW, yang menyebutkan, “Pada setiap rumah kaum muslimin ada Jin Islam yang tinggal di atapnya, setiap kali makanan diletakkan, maka mereka turun dan makan bersama penghuni rumah itu.”
Jadi dengan demikian tidaklah mustahil jika ada komunitas jin yang senang tinggal di masjid atau musholla. Tentu saja, komunitas jin dimaksud berasal dari kalangan Jin Muslim. Keberadaan mereka di kedua tempat suci ini bukan semata menjadikannya sebagai tempat tinggal, namun sekaligus juga ingin menjaga kesuciannya.
Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian Supena, yang dituturkan bebera waktu silam. Kejadiannya berlangsung saat Supena menjebat seketris desa atau juru tulis di sebuah desa yang terletak di kecamatan Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Mendapatkan uang gaib melalui media sate gagak merupakan ciri khas ilmu pesugihan Dewi Lanjar. Dikisahkan, sosok gaib Dewi Lanjar memiliki kekayaan melimpah, berupa harta emas lantakan serta tumpukan uang yang tak terhitung nilainya. Uniknya, mata uang yang dimiliki Dewi Lanjar ini mengikuti mata uang yang berlaku di alam manusia. Konon, mata uang rupiah, dollar Amerika, dollar Singapura, Ringgit Malaysia, dll, terdapat dalam tumpukan uang yang dimiliki Dewi Lanjar.
Itulah sebabnya banyak orang yang berupaya mendapatkan uang gaib tersebut. Mata uang yang diinginkan tergantung peminatnya, asalkan syarat yang diminta Dewi Lanjar dapat dipenuhi, yaitu sate gagak.
Sepintas mudah saja menyediakan sate gagak. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Itulah yang dialami Samsudin (48 tahun).
“Pengalaman yang saya alami sangat menakutkan. Bahkan dapat mengancam keselamatan jiwa. Sebaiknya jangan coba-coba mengikutinya,” kenang Samsudin yang menetap di Kampung Pekalipan, Cirebon.
Cerita misteri- Ketika aku masih bayi merah umur 3 hari, ibuku meninggal dunia karena kondisinya yang lemah sehabis melahirkanku. Aku dan kelima kakakku pun harus merelakan kepergiannya. Aku sendiri kemudian diangkat oleh orang tua yang hingga kini amat menyayangiku.
Bertahun-tahun aku terpisah dari keluargaku tanpa sepengetahuanku. Misteri ini baru terungkap ketika keluargaku di kampung memberi kabar, bahwa nenekku, ibu dari ayahku sakit keras.